Home » , , » 10 Tenaga Medis Yang Ternyata Pembunuh Tersadis Sejagat Raya

10 Tenaga Medis Yang Ternyata Pembunuh Tersadis Sejagat Raya

Jadi Seru — Pada umumnya para tenaga medis seperti dokter, perawat, apoteker, dan masih banyak lagi, seharusnya menjadi pahlawan bagi para pasien yang mereka tangani. Namun beberapa diantaranya ini justru tidak demikian, pasalnya dengan akses penuh sebagai tenaga profesional, mereka malah melakukan beragam aksi kejam pada para pasiennya.

Di dalam sebagian besar kasus, tindakan kriminal mereka tak terdeteksi hingga bertahun-tahun, hingga akhirnya diketahui setelah tindakan pembunuhan mereka telah terlalu parah.  Siapa saja mereka? Sebaiknya hati-hati, selalu waspada pada apa yang ada di sekitar Anda.

1. Shiro Ishii
Ia adalah seorang mikrobiologis Jepang yang juga merupakan seorang dokter. Shiro Ishii adalah pimpinan Unit 731, yang meneliti senjata perang biologis selama Perang Sino Jepang Kedua.


Ishii sangat berprestasi saat sekolah di Army Hospital, Tokyo. Pada tahun 1942, Ishii memulai penelitiannya untuk senjata bakteri dengan menggunakan bom, pistol, dan metode-metode lain.

Ia mengetes senjata ini pada tawanan perang Cina dan penduduk sipil. Diberitakan puluhan ribu orang meninggal karena senjata yang menyebarkan anthrax, cholera, bubonic plague, dan masih banyak lagi. Ia juga melakukan eksperimen-eksperimen lain seperti pemaksaan aborsi, serangan jantung buatan, stroke, hypothermia, dan masih banyak lagi. 

2. Dorothea Waddingham
Meskipun Dorothea Waddingham bukanlah perawat berlisensi, ia memiliki sebuah rumah jompo dekat Nottingham. Ibu dari 5 orang anak ini mulai merawat orang-orang tua pada awal tahun 1930. Dua dari para wanita ini adalah ibu dan anak. Pertama-tama sang ibu meninggal, dan segera setelahnya, sang anak meninggal pula.


Saat sang anak meninggal, keluarganya mengetahui bahwa ia mengubah surat wasiatnya sesaat sebelum meninggal dan mewariskan semua hartanya ke Waddingham. Ia juga menambahkan detail permintaan yang aneh seperti meminta dikremasi segera setelah meninggal dan tak memberitahu anggota keluarga yang lain saat ia meninggal.

Untuk dikremasi, butuh 2 dokter untuk menandatangani surat kematiannya. Salah satu dokter curiga dan meminta otopsi dilakukan. Saat itulah morfin dalam jumlah mematikan ditemukan di tubuhnya, juga dalam tubuh sang ibu.

Waddingham dinyatakan bersalah dan dihukum gantung mati di depan umum pada tahun 1936.

3. Dr Harold Shipman
Pada tahun 2000, Dr Harold Shipman adalah satu-satunya dokter yang di eksekusi atas pembunuhan pada pasiennya. Ia didakwa bersalah membunuh 15 pasien, meskipun diperkirakan ia bertanggung jawab atas pembunuhan 200 orang.


Saat Shipman ditangkap, sebuah investigasi diadakan dan diketahui bahwa cara membunuhnya adalah menyuntikkan overdosis diamorfin, menandatangani surat kematian pasien dan memalsukan riwayat penyakit mereka.

Dr Harold Shipman dihukum seumur hidup di penjara, namun ia akhirnya bunuh dari dengan menggantung diri di sel penjara pada tahun 2004. 

4. John Bodkin Adams (Pemburu Warisan)
Dokter asal Inggris ini diprediksi bertanggung jawab atas kematian lebih dari sekitar 160 orang pasiennya. Dr Adams adalah sosok yang begitu dekat pada para pasien wanita tua. Ia akan mendekati mereka hingga akhirnya meninggal. Anehnya, 132 pasien menambahkan nama Dr Adams pada surat wasiat mereka, sesaat sebelum mereka meninggal.

John Bodkin Adams (Pemburu Warisan)

Sang dokter tak pernah ketahuan bersalah dalam pembunuhan, hingga banyak orang curiga ia membantu para pasien melakukan eutanasi (bunuh diri). Meskipun sempat dijebloskan ke penjara setelah didakwa melakukan penipuan resep dokter, mengganggu penyelidikan polisi dan meloloskan obat-obatan berbahaya, Adams akhirnya mendapatkan lisensinya kembali setelah bebas. Adams terus beroperasi sebagai dokter hingga akhirnya meninggal secara wajar.

5. Arnfinn Nesset
Selama bekerja sebagai perawat dan manajer rumah sakit, Arnfinn Nesset membunuh setidaknya 20 pasien. Ia juga melakukan pemalsuan dan penghilangan dokumen.


Jumlah korbannya diperkirakan hampir 130 orang, namun banyak dari kasus-kasus tersebut yang akhirnya tak dapat dihubungkan secara langsung dengannya. 

Setelah dicurigai atas banyak pembunuhan, Nesset akhirnya mengakui pembunuhan 27 pasien dengan menginjeksikan suxamethonium chloride, perelaksasi otot. Dihukum hanya 21 tahun penjara, kini Nesset telah bebas, dan dikabarkan hidup dengan nama samaran. 

6. Michael Swango (Penyuka Tragedi)
Dokter asal Amerika, Michael Swango ini memang kelihatannya tampan dan berwibawa. Namun tanda-tanda aneh telah disadari teman-teman kuliahnya di kedokteran. Teman sekelasnya saat itu kerap melihat Swango mengumpulkan gambar-gambar mengerikan yang berdarah-darah.


Meski demikian, tak banyak yang tahu bahwa ia begitu berbahaya hingga bertahun-tahun kemudian, ia diketahui membunuh antara 30 hingga 60 pasiennya. Selama Swango menjadi dokter magang pada tahun 1983, banyak pasien menjadi sekarat setelah dikunjungi Swango.

Karena tak ada bukti bersalah, Swango terus bertugas sebagai dokter. Ia pindah ke Illinois dan bekerja sebagai supir ambulance. Namun tak lama kemudian ia meracuni rekan-rekan kerjanya dengan racun semut, hingga akhirnya tertangkap.

Anehnya, setelah dibebaskan karena berkelakuan baik, ia pindah ke Afrika dan melakukan tindak pembunuhan lagi di RS terpencil di sana. Swango akhirnya dihukup seumur hidup.

7. Beverley Allitt
Ia adalah suster yang bekerja di penitipan anak di Grantham dan Rumah Sakit Kesteven, Lincolnshire. Dalam kurun waktu 59 hari yang mengerikan pada tahun 1991, Beverley Allitt telah membunuh 4 anak di rumah sakit dengan menginjeksikan insulin berdosis mematikan dan gelembung-gelembung udara pada aliran darah mereka. Ia juga mencoba membunuh tiga anak lain dan melukai 6 anak lain.


Allit tertangkap dan dihukum penjara. Meski tak diketahui kenapa ia melakukan perbuatan kejinya, Allit didiagnosa menderita Münchausen syndrome. Penyakit psikologi ini digambarkan sebagai keinginan menyakiti dan melukai seseorang yang ia urus dengan tujuan menarik perhatian. 

8. Jane Toppan (Poison Queen)
Ia adalah seorang suster Amerika yang membunuh setidaknya 31 pasiennya melalui injeksi morfin dengan dosis yang mematikan. Namun selama 20 tahun karirnya di Boston, Jane Toppan bisa saja membunuh sekitar 70 orang.


Sebagai seorang suster muda berusia 26 tahun yang berpenampilan cukup menarik, Toppan tak memiliki banyak kesulitan menyembunyikan obsesi anehnya pada kematian. Padahal sejak ia menjadi siswa keperawatan, ia kerap menaikkan dosis obat pasiennya untuk melihat reaksinya. Maka setelah resmi menjadi perawat, ia menaikkan 'level' kriminalnya, menginjeksikan overdosis morfin dan atropine.

Toppan akhirnya ketahuan setelah membunuh seorang pasien dan 2 orang anaknya. Setelah ditangkap, ia mengaku telah membunuh 31 orang. Karena Toppan ternyata pernah melakukan percobaan bunuh diri, ia akhirnya dimasukkan ke rumah sakit jiwa, tempatnya menghabiskan waktu 40 tahun sebelum akhirnya meninggal pada tahun 1938.

9. H.H. Holmes (Pembunuh Berantai Pertama USA)
Ia adalah dokter yang diketahui telah membunuh setidaknya 20 orang, dan dicurigai bertanggung jawab atas kematian sekitar 200 orang. Saat tinggal di Chicago, HH Holmes menipu seorang janda yang mendiang suaminya memiliki bisnis farmasi, lalu membangun hotel luas yang menyerupai kastil dari hasilnya menipu.


Di hotel itu, ia memaksa para karyawannya untuk menggunakan jasa asuransi jiwa, dan menjadikannya pewaris asuransi tersebut. Kemudian ia mulai membunuh mereka satu persatu dan mengumpulkan uang asuransi.

Di hotel tersebut ia membangun ruang-ruang yang mengandung gas beracun, dan beragam alat penyiksa kejam lainnya. Ia menyiksa para korban dan membunuh mereka, untuk mengambil organ dan bagian tubuh lain dan menjualnya pada laboratorium penelitian medis. Akhirnya Holmes dihukum gantung pada tahun 1897. 

10. Josef Mengele (Malaikat Kematian)
Ia adalah seorang dokter pada camp Nazi di Auschwitz pada era Perang Dunia Kedua. Tugas Dr. Josef Mengele ini adalah memeriksa apakah seseorang cukup sehat untuk memasuki camp buruh. Mereka yang tak sehat akan dibawa ke kamar gas (dan dibunuh di sana). Selama 'karir'nya, ia pernah memerintahkan 750 wanita di sebuah asrama untuk masuk ke kamar gas hanya karena kutu rambut menular.


Namun kekejamannya tak hanya sampai di sana. Dengan aksesnya sebagai dokter, ia melakukan berbagai eksprerimen aneh; seperti mengoperasi orang-orang tanpa obat bius untuk mengambil organ-organ, menginjeksi tinta untuk merubah warna mata seseorang, dan menjahit bayi kembar untuk membentuk 'sepasang kembar monster'.

Sebagian besar pasien Mengele meninggal di meja opersi, atau segera setelah operasi. Setelah perang berakhir, Mengele terbang ke Amerika Selatan, tempatnya menghabiskan masa tuanya hingga meninggal pada tahun 1979. Meskipun ia berstatus buronan Nazi, ia tak pernah tertangkap maupun diadili. 



0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © jadi seru - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger
Δ